Sunday, May 3, 2015

Anti-Social Vs Selectively Social


Pernahkah anda bertanya-tanya dalam diri anda, “Koq semakin bertambahnya umur kita, kita semakin malas atau selektif dalam melakukan aktifitas sosial?”

Beberapa tahun terakhir ini, saya mulai bertanya-tanya dalam diri saya, mengapa semakin sulit saja bagi saya untuk dapat hang-out dengan teman-teman saya, bahkan teman dekat saya pun beberapa kali mengejek saya, bahwa saya lebih mudah diajak hang-out ketika hanya mendekati hari raya Idul Fitri, dimana lalu lintas kota Jakarta lebih lenggang daripada umumnya. 

IYA benar, macet merupakan alasan utama saya untuk mereka.

Tetapi klo saya bandingkan dengan keadaan dimana saya masih duduk di bangku SMU atau kuliah, jarak atau lalu lintas bukanlah suatu masalah, secara sejak SMU saya sudah cukup beruntung, saya memiliki kendaraan pribadi untuk membawa saya kemanapun saya inginkan.

Walaupun memang faktanya, semakin hari lalu lintas kota Jakarta semakin parah, tapi apakah benar… lalu lintas merupakan alasannya?

Hal lain yang membuat saya berpikir adalah sepertinya lebih mudah bagi saya dalam mencari teman pada saat kita masih sekolah ataupun kuliah, rasanya persyaratan pertemanan begitu mudah didapat, mungkin karena standar yang digunakan masih sangat umum/ lazim. Seperti kita ketahui, waktu kita masih anak-anak atau remaja, pada umumnya gaya pergaulan atau pertemanan kita masih dipengaruhi oleh petuah-petuah dari orang tua kita, seperti jangan bergaul dengan teman yang mengkonsumsi narkoba, gemar bolos ke sekolah/ kuliah, gemar berjudi, dsb.

Tapi seiring berjalannya waktu, kita mulai memiliki aturan-aturan sendiri, bagi saya, saya tidak suka berteman dengan orang yang tidak menghargai waktu alias suka telat, suka berpikiran negatif terhadap orang lain, atau bahkan yang suka meminjam uang. 

Even it’s getting harder to make a friendship when we are older?!!

Bahkan ada masa-nya ketika saya pulang sebelum jam 9 malam, saya akan mengatakan “malu dengan pagar”, tapi sekarang, saya berusaha sebelum jam 9 saya sudah di rumah. Bahkan saya pernah menghadiri suatu private party dimana para undangannya 90% saya tidak mengenalnya, tetapi pada saat itu, itu merupakan hal yang sangat menarik bagi saya.

But it’s different now, I don’t feel the same way anymore…

Apakah saya telah menjadi orang yang anti-social, atau saya hanya sekedar selectively social?

Saya menjadi bertanya-tanya, apa perbedaan diantara keduanya? Dan yang mana’kah saya?

Berdasarkan Wikipedia, Anti-Social merupakan...


“Perilaku anti sosial (dengan atau tanpa tanda penghubung) adalah perilaku yang kurang pertimbangan untuk orang lain dan yang dapat menyebabkan kerusakan pada masyarakat, baik sengaja atau melalui kelalaian, karena bertentangan dengan perilaku pro-sosial, perilaku yang membantu atau bermanfaat bagi masyarakat. Hukum pidana dan hukum sipil di berbagai negara menawarkan solusi untuk perilaku anti sosial.”


Sepertinya jauh berbeda dengan Selectively Social, dimana kita hanya menjadi lebih selektif dalam menjalani kehidupan sosial kita, ada 1 teori menarik yang saya dapatkan tentang being Selectively Social….


“Selective Social Interaction Theory argues that as people age they become more selective or picky about their friendships and relationships. For example, in college we may have enjoyed meeting and hanging out with a wide range of people, but as we get older we are more likely to focus on the interactions that are the most familiar and rewarding for us. This is because older adults have less and energy to devote to socializing and they want their interactions to be as positive as possible.” 
 

Sekarang jelaslah bagi saya & saya akan katakan dengan bangga :) 
 
 
 
 



No comments:

Post a Comment