Pertanyaan ini muncul begitu saja dibenak saya
ketika saya membaca suatu artikel di salah satu website lokal, yang bertajuk “Persahabatan Tanpa Cinta? Bisa Kok!”.
Artikel ini sebenarnya
membahas tentang seberapa besar kemungkinan seorang pria dan seorang wanita
dapat berteman tanpa melibatkan hubungan asmara
didalamnya.
Lalu perhatian saya
terhenti pada suatu pernyataan yang mengatakan, “Wanita memaafkan namun
tak melupakan, sementara pria melupakan tapi tak memaafkan”.
Pada saat yang bersamaan saya juga sedang on line dengan teman wanita saya, dia
seorang psikolog yang sedang berdinas di luar kota. Saya menanyakan pendapat dia tentang pernyataan ini, lalu dia berpendapat…
sebenernya
menurut gua forgive dan forget tuh satu paket yah
kalo
kita udah memaafkan tapi kita ungkit2 terus
apa itu bisa dibilang memaafkan?
kalo udah lupa ya berarti udah memaafkan juga kan
mana bisa kita tidak memaafkan hal yang udah kita lupa
Setelah mendengar pernyataan dari dia
tersebut, muncul dalam benak saya pertanyaan-pertanyaan lain,
“Is that
true.. if you forget someone’s fault, it means you already forgive them?”
“Benarkah
memaafkan dan melupakan merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan?”
Lalu bagaimana dengan seorang wanita yang
selalu mengungkit kembali apabila pasangan pria-nya melupakan hari jadi mereka,
bukankah seharusnya tidak perlu diungkit
kembali apabila sudah dimaafkan?
Mari kita melihat suatu ilustrasi lain yang
kerap ada di masyarakat…..
Sudah sejak lama, di kalangan masyarakat
dikenal adanya ungkapan yang mengatakan “2
dari 3 laki-laki selingkuh”, ungkapan semacam ini tentunya secara tidak
langsung menghalalkan perbuatan selingkuh yang dilakukan oleh para kaum adam,
bahkan saat ini pernikahan poligami-pun sudah kerap dilakukan.
Adakah
hubugan antara kebiasaan ini dengan wanita
memaafkan? Sehingga adanya rasa
aman bagi para lelaki untuk berbuat salah...
Pernahkan
anda berpikir, wanita dianggap tabu berselingkuh hanya karena pria tak memaafkan?
“Is that
true… men can’t forgive?”
Lalu bagaimana dengan perjanjian-perjanjian
damai yang telah ditanda-tangani oleh pemimpin dunia yang mayoritas kaum adam? Atau para pria
dalam hidup anda yang telah memaafkan anda karena kesalahan yang anda perbuat?
Untuk
mendapat jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, tentunya tidaklah sesederhana
kelihatannya… begitu banyak faktor dan unsur yang terlibat didalamnya.
APA yang
harus kita lupakan?
SIAPA
yang harus kita maafkan?
dan…
Bagaimana
kita menafsirkan kata “forgive & forget” itu sendiri dalam diri kita?
Sesungguhnya menurut pendapat saya, memaafkan
dan melupakan merupakan 2 (dua) hal yang berbeda dan tidak tergantung hanya pada
sebatas gender seseorang.
Kita
dapat melakukannya secara bersamaan maupun terpisah. Dan itu merupakan suatu pilihan yang kita
buat... PILIHAN!
Saya
percaya Tuhan menciptakan manusia dengan karunia
yang sama, yakni memiliki rasa saling memaafkan satu sama lain sekaligus
melupakan... yang ingin dilupakan.
Banyak bentuk maaf yang dapat kita berikan dalam hidup
ini &
adakalanya
kita tidak semestinya untuk melupakan
No comments:
Post a Comment