Seberapa
seringkah kita mendengar teman atau kerabat kita berkata (atau bahkan diri kita
sendiri)…
“Saya waktu kecil, miskin, jangankan beli
mainan, untuk makan saja pas-pasan, makanya saya ingin anak-anak saya mendapatkan
yang terbaik”
“Dulu orang tua saya tidak bisa membiayai
kuliah saya, saya harus bekerja sambil kuliah, makanya sekarang saya pastikan anak-anak
saya mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa mereka terima”
Dan masih banyak lagi hal-hal seperti ini yang
kita dengar, makanya tidak jarang, para orang tua selalu berniat memberikan
yang terbaik bagi anak-anaknya.
Pertanyaannya adalah, apakah yang terbaik menurut kita sebagai orang tua, memang
sesungguhnya yang terbaik bagi anak-anak
kita.
Jaman sekarang, tidak sedikit para orang tua
yang memberikan anak-anaknya begitu banyak fasilitas, seperti kendaraan pribadi
yang dapat mengantar anaknya kemana saja dan kapan saja, gadget tercanggih,
uang saku yang terbilang fantatis jumlahnya, ekstrakurikuler yang begitu padat
dan dari segi nominal-pun tergolong tidak murah, dan masih banyak lagi.
Saya tidak katakan hal ini salah, karena
pastinya semua orang tua sudah sewajarnya menginginkan yang terbaik untuk
anak-anaknya. Jadi wajar-wajar saja, apabila mereka ingin memberikan yang terbaik yang mereka bisa.
Tapi sadarkah mereka…
Kita sering mendengar atau melihat bahwa
banyak orang sukses yang memiliki latar belakang yang pahit dan getir. Pribadi seseorang akan menjadi tangguh apabila dia telah banyak melalui
banyak rintangan/ kesulitan… benar bukan?!
You are not strong if you never feel weak
It’s not brave if there is no fear
Agak kontrakdiktif bukan apabila kita
menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang sukses dan tangguh dalam
hidupnya, tapi kita selalu mempermudah segalanya.
Sadarkah Anda dengan mempermudah segalanya bagi
mereka, sebenarnya Anda telah membuat standar/ syarat hidup mereka menjadi
tinggi/ banyak.
Sebagai gambaran…
Saya memiliki teman yang tidak mengijinkan
anak-anaknya untuk makan makanan di pinggir jalan, karena alasan higienis,
selain itu, dia merasa karena dia sudah bekerja keras, makanya dia ingin
anak-anaknya hidup lebih baik.
Lalu suatu ketika, anaknya jajan di sekolah dari
tukang kaki lama, dan SAKIT.
Dia semakin yakin, bahwa makan dari pinggir
jalan itu adalah ide yang buruk.
Lalu saya berpikir dan bertanya pada dia, saya
dan dia sering makan di pinggir jalan, dan kami baik-baik saja bukan?!
Saya pun bertanya dengan dia, pernahkan dia
berpikir apabila suatu hari (apabila dia sudah tidak ada) apakah ada jaminan
bahwa kehidupan anak-anaknya akan selalu baik?
Bagaimana jadinya apabila suatu hari anaknya
tersebut harus membeli makanan dari pedagang kaki lima?
Dapat dibayangkan akan seperti apa bagi
anak-anaknya kelak.
Bagi kita itu hal yang biasa saja… tapi
mungkin tidak bagi mereka.
Seringkali kalo saya dan dia membahas tentang
perihal ini, dia selalu mengatakan, emang berbeda jamannya, jaman kita dengan
jaman anak-anak kita tidak bisa disamakan, jadi menurut dia sah-sah aja apa
yang dia lakukan tersebut bagi anak-anaknya.
Dia menganggap seolah-olah hal itu merupakan
suatu hal yang Nature (berkaitan
dengan hal-hal biologis/ gen seseorang), tapi sadarkah dia, bahwa itu sesungguhnya adalah Nurture (berkaitan dengan faktor lingkungan)?
Dan dia yang
menciptakannya!
Lalu saya-pun mulai mengintropeksi diri saya
sendiri,
Saya pun tidak mempungkiri, dulu saya
baik-baik saja tidur dengan menggunakan kipas angin, tapi kini saya tidak bisa
lagi tidur hanya dengan kipas angin, AC menjadi tuntutan utama saya.
Bahkan dalam urusan bekerja pun saya sama,
saya selalu menekankan bahwa kenyamanan dalam bekerja itu, penting bagi saya,
kenyamanan menjadi poin terpenting bagi saya disusul dengan karir dan gaji
tentunya. Tapi saya sadar sekarang…
This is life, many times life is sucks, we cannot always
in situation that we want, sometimes we need to settle and deal with it!
Saya baru saja membaca suatu artikel tentang Syarat Hidup, ada 2 hal penting yang
dikatakan dalam artikel tersebut,
1.
Jadikan
kenyamanan itu sebagai nice to have bukan
sesuatu yang must have.
2.
Utamakan
value and purposes of things daripada
price of things.
Saya cukup yakin untuk mereka yang lahir di
era 70-an kebelakang, mengetahui dengan pasti bahwa makan daging sapi impor
merupakan makan mewah, atau ice cream
Haagen Dazs tergolong ice-cream mewah.
Pertanyaannya bagaimana dengan generasi anak-anak
kita, tahukah atau sadarkah mereka akan hal itu?
Tahukah/ sadarkah mereka klo tidur dengan/
tanpa AC sebenarnya memberikan value
yang sama?! Sama-sama TIDUR.
Tahukah/ sadarkah mereka klo berlibur ke Ancol
atau ke Disneyland Jepang memberikan value
yang sama?! Sama-sama menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.
Ada pesan penting lainnya yang saya ambil dari
artikel yang saya baca tersebut…
Orang tua kita bersaing dengan 3 milyar orang.
Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang.
Generasi anak kita nanti mungkin nanti harus
bersaing dengan 12 milyar orang.
Yakinkah Anda telah memberikan yang terbaik bagi mereka?
No comments:
Post a Comment