Sunday, October 25, 2015

Nature Vs Nurture

Seberapa seringkah kita mendengar teman atau kerabat kita berkata (atau bahkan diri kita sendiri)…

“Saya waktu kecil, miskin, jangankan beli mainan, untuk makan saja pas-pasan, makanya saya ingin anak-anak saya mendapatkan yang terbaik”

“Dulu orang tua saya tidak bisa membiayai kuliah saya, saya harus bekerja sambil kuliah, makanya sekarang saya pastikan anak-anak saya mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa mereka terima”

Dan masih banyak lagi hal-hal seperti ini yang kita dengar, makanya tidak jarang, para orang tua selalu berniat memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Pertanyaannya adalah, apakah yang terbaik menurut kita sebagai orang tua, memang sesungguhnya yang terbaik bagi anak-anak kita.

Jaman sekarang, tidak sedikit para orang tua yang memberikan anak-anaknya begitu banyak fasilitas, seperti kendaraan pribadi yang dapat mengantar anaknya kemana saja dan kapan saja, gadget tercanggih, uang saku yang terbilang fantatis jumlahnya, ekstrakurikuler yang begitu padat dan dari segi nominal-pun tergolong tidak murah, dan masih banyak lagi.

Saya tidak katakan hal ini salah, karena pastinya semua orang tua sudah sewajarnya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Jadi wajar-wajar saja, apabila mereka ingin memberikan yang terbaik yang mereka bisa.

Tapi sadarkah mereka…  

Kita sering mendengar atau melihat bahwa banyak orang sukses yang memiliki latar belakang yang pahit dan getir.  Pribadi seseorang akan menjadi tangguh apabila dia telah banyak melalui banyak rintangan/ kesulitan… benar bukan?!

You are not strong if you never feel weak
It’s not brave if there is no fear

Agak kontrakdiktif bukan apabila kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang sukses dan tangguh dalam hidupnya, tapi kita selalu mempermudah segalanya.

Sadarkah Anda dengan mempermudah segalanya bagi mereka, sebenarnya Anda telah membuat standar/ syarat hidup mereka menjadi tinggi/ banyak.

Sebagai gambaran…

Saya memiliki teman yang tidak mengijinkan anak-anaknya untuk makan makanan di pinggir jalan, karena alasan higienis, selain itu, dia merasa karena dia sudah bekerja keras, makanya dia ingin anak-anaknya hidup lebih baik.

Lalu suatu ketika, anaknya jajan di sekolah dari tukang kaki lama, dan SAKIT.

Dia semakin yakin, bahwa makan dari pinggir jalan itu adalah ide yang buruk.

Lalu saya berpikir dan bertanya pada dia, saya dan dia sering makan di pinggir jalan, dan kami baik-baik saja bukan?!

Saya pun bertanya dengan dia, pernahkan dia berpikir apabila suatu hari (apabila dia sudah tidak ada) apakah ada jaminan bahwa kehidupan anak-anaknya akan selalu baik?

Bagaimana jadinya apabila suatu hari anaknya tersebut harus membeli makanan dari pedagang kaki lima?

Dapat dibayangkan akan seperti apa bagi anak-anaknya kelak.

Bagi kita itu hal yang biasa saja… tapi mungkin tidak bagi mereka.

Seringkali kalo saya dan dia membahas tentang perihal ini, dia selalu mengatakan, emang berbeda jamannya, jaman kita dengan jaman anak-anak kita tidak bisa disamakan, jadi menurut dia sah-sah aja apa yang dia lakukan tersebut bagi anak-anaknya.

Dia menganggap seolah-olah hal itu merupakan suatu hal yang Nature (berkaitan dengan hal-hal biologis/ gen seseorang), tapi sadarkah dia, bahwa itu sesungguhnya adalah Nurture (berkaitan dengan faktor lingkungan)?

Dan dia yang menciptakannya!

Lalu saya-pun mulai mengintropeksi diri saya sendiri,

Saya pun tidak mempungkiri, dulu saya baik-baik saja tidur dengan menggunakan kipas angin, tapi kini saya tidak bisa lagi tidur hanya dengan kipas angin, AC menjadi tuntutan utama saya.

Bahkan dalam urusan bekerja pun saya sama, saya selalu menekankan bahwa kenyamanan dalam bekerja itu, penting bagi saya, kenyamanan menjadi poin terpenting bagi saya disusul dengan karir dan gaji tentunya.  Tapi saya sadar sekarang…

This is life, many times life is sucks, we cannot always in situation that we want, sometimes we need to settle and deal with it!

Saya baru saja membaca suatu artikel tentang Syarat Hidup, ada 2 hal penting yang dikatakan dalam artikel tersebut,

1.    Jadikan kenyamanan itu sebagai nice to have bukan sesuatu yang must have.
2.    Utamakan value and purposes of things daripada price of things.

Saya cukup yakin untuk mereka yang lahir di era 70-an kebelakang, mengetahui dengan pasti bahwa makan daging sapi impor merupakan makan mewah, atau ice cream Haagen Dazs tergolong ice-cream mewah.

Pertanyaannya bagaimana dengan generasi anak-anak kita, tahukah atau sadarkah mereka akan hal itu?

Tahukah/ sadarkah mereka klo tidur dengan/ tanpa AC sebenarnya memberikan value yang sama?!  Sama-sama TIDUR.

Tahukah/ sadarkah mereka klo berlibur ke Ancol atau ke Disneyland Jepang memberikan value yang sama?! Sama-sama menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.

Ada pesan penting lainnya yang saya ambil dari artikel yang saya baca tersebut…

Orang tua kita bersaing dengan 3 milyar orang.
Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang.
Generasi anak kita nanti mungkin nanti harus bersaing dengan 12 milyar orang.


Yakinkah Anda telah memberikan yang terbaik bagi mereka?