Monday, December 22, 2014

Being Great



Kakak saya mengirimkan sebuah email menarik beberapa hari yang lalu, awalnya saya agak malas membaca karena email tersebut dalam file berbentuk PDF sehingga agak berat untuk dibukanya.  Tapi pada suatu waktu setelah makan siang di kantor, saya coba membuka dan membacanya. 

Ternyata artikel yang saya baca tersebut sangat inspiratif dan menurut saya sangat berguna sekali bagi mereka yang di masa produktif seperti saya.  Judul artikel tersebut adalah Great Hopes Make Great Men.

Artikel ini ditulis oleh Thomas Fuller berdasarkan buku From Good to Great dari Jim Collins.  Adapun intisari dari artikel dan buku tersebut benar-benar membuat saya tersadar dari tidur yang panjang, dalam artikel dan buku tersebut dikatakan bahwa musuh dari ‘Baik’ (Good) bukanlah ‘Buruk’ (Bad), melainkan ‘Hebat’ (Great).

Kenapa begitu?  Karena pada saat kita sudah merasa baik, maka kita akan merasa nyaman dan sulit untuk berkembang lebih lagi.  Tanpa kita sadari perasaan seperti ini sebenarnya adalah musuh utama kita untuk membuat kita menjadi lebih baik.   

Beberapa tahun lalu, saya pernah bergabung dalam suatu MLM, disana saya belajar banyak bagaimana kita memotivasi diri kita sendiri untuk berkembang secara kontinu, dan mereka selalu mengingatkan pada saya bahwa untuk memperoleh sesuatu yang lebih besar, kita harus terlebih dahulu keluar dari zona nyaman kita.  Mungkin pada awalnya, kita tidak merasa nyaman dengan zona baru tersebut, tapi lama-kelamaan apabila kita bertahan, maka kita akan merasa nyaman.  Dan apabila proses ini kita ulangi secara terus-menerus, maka bisa dapat kita bayangkan sebesar apa zona kenyamanan kita suatu hari nanti.

Masalahnya... tidak banyak orang yang berani atau mau keluar dari zona nyamannya untuk memperoleh zona yang lebih besar?  Kenapa?

TAKUT... Takut akan resiko yang akan dihadapi, segala resiko, apapun bentuknya.

Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh takut, tentu saja itu manusiawi.  Tapi sampai sejauh mana kita dapat mengontrol rasa takut itu.  Kita menjadi berani setelah kita takut, bukanlah berani klo tidak pernah takut.

Tapi tahukah anda.. ada pepatah yang mengatakan, “Even you’ve already on the right track but you just stand still, you will get run off”.  Bahkan untuk dilkalangan pelaku bisnis, mereka juga mengenal istilah, “Let’s kill our products before the competitors kill ours”.

Salah satu film kartun favorit saya adalah Ratatoui.  Film itu sangat menginspirasi kita bagaimana kita harus berani melakukan perubahan dalam hidup kita, seberapa pun hal itu sepertinya mustahil, mungkin anda masih ingat, film tersebut menceritakan tentang persahabatan seorang koki dengan seekor tikus, tentu saja di dunia ini tidak mungkin ada seekor tikus yang jago memasak, tapi apabila kita melihat bentuk persahabatan antara 2 (dua) jenis makhluk hidup tersebut, bagaimana menurut anda?

Salah satu dialog favorit saya ketika si tikus bertengkar dengan ayahnya, dimana si ayah berkata, “men hate us, you cannot change that, it’s a nature”, dan si anak menjawab, “changing is a nature, and we make it when we decide it”.

Bahkan hingga di akhir film, kita masih diingatkan kembali dengan ungkapan...
“Not everyone can be great in their life, but a great man can come from anyone”.

Sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan suatu penutup yang saya ambil dari artikel yang ditulis oleh Anthony Dio Martin dalam artikelnya, Good Vs Great.

Di Afrika, pada saat matahari mulai terbit, rusa-rusa sadar bahwa mereka harus mulai berlari, berlari lebih cepat dari singa yang tercepat atau mereka akan menjadi mangsa hidup-hidup.  Dan pagi-pagi juga para singa sadar, mereka pun harus mulai berlari.  Lebih cepat dari rusa yang paling lambat.  Atau mereka akan mati kelaparan.  Karena itu, tidak peduli apakah engkau singa atau rusa, saat matahari mulai terbit, sebaiknya engkau mulai berlari..!  

Sunday, November 23, 2014

Is (s)he the one?


Barusan saya membaca suatu artikel yang dikutip dari buku "Did I marry the right person?"

Artikelnya sangat menarik dan sangat informatif bagi kita untuk berpikir atas suatu hubungan yg sedang kita jalani (bagi yg sdh berpasangan) ataupun sebagai bahan “persiapan diri” bagi yg msh single untuk menjalin suatu hubungan dg orang lain.

Seringkali kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?" bagi yang sudah menikah dan bagi yang masih pacaran, “Apakah saya telah menemukan jodoh saya?”

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seorang peserta tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?"

Berikut ini saya lampirkan suatu ilustrasi bagi kita semua, semoga dapat menemukan jawaban atas pertanyaan tsb.

SETIAP ikatan memiliki siklus.

Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda.  Telepon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat dan begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit.  Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan.

Makanya dikatakan "jatuh" cinta.

Bahkan orang yang sedang kasmaran kadang kala mengatakan "aku mabuk cinta".

Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.

Jatuh cinta itu mudah.  Sesuatu yang pasif dan spontan.

Tapi...  setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar.  Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada atau bahkan menambah beban kita.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga/hubungan anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan/pada saat anda jatuh cinta dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, atau bagi yang masih pacaran, “Is he/she the one?”  baik dari anda ataupun dari pasangan anda, atau bahkan dari keduanya.

Seringkali ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan/mengenang kembali masa-masa indah anda.. anda mungkin malah mengeksplor/menemukannya bersama orang lain.

Dan pada saat itulah, awal dari berakhirnya hubungan anda.

Ironisnya, tdk jarang dari kita saling menyalahkan satu sama lain karena hal tersebut.  Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran selalu kita lakukan untuk keluar dari situasi ini, mulai menyibukan diri dengan pekerjaan/hobi, pertemanan, nonton TV sampe TV-nya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tau nggak?!

Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya ada di dalam hubungan itu sendiri alias diri kita sendiri.

Selingkuh?? Ya, mungkin itu jawabannya.

Saya nggak mengatakan kalo anda nggak boleh ataupun nggak bisa selingkuh, tentu saja anda bisa!!!

Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik, tapi itu bersifat temporer atau sementara, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti hubungan anda sebelumnya).

Karena...

KUNCI SUKSES DALAM SUATU HUBUNGAN/PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DENGAN TERUS MENERUS!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan.

Cinta NGGAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi.

Kita nggak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya.

Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Kadang-kadang benar juga ungkapan "diperbudak cinta", memang ironis, tapi itulah kenyataannya karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK.

Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar hubungan kita dapat berjalan dengan baik.

Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.

Cinta bukanlah MISTERI.

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar hubungan anda dapat berjalan lancar.

Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fĂ­sika (seperti: gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan  rumah tangga juga ada hukumnya.

Sama juga halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat.

Beberapa kebiasaan dalam suatu hubungan juga DAPAT membuat hubungan itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat.

Jika kita TAHU dan MAU menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta, bukan "JATUH".

Karena cinta dalam suatu hubungan/pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah KEPUTUSAN dan bukan hanya sekedar PERASAAN!

Tetapi memang lain halnya dengan orang-orang yang sudah putus asa ataupun sudah “malas” untuk “membuat” cinta karena pengalaman buruknya di masa lalu ataupun karena hal lainnya.  Bagi orang-orang ini tentunya tidak semudah itu untuk memahami tulisan di atas, karena pada dasarnya mereka sudah “berhenti” untuk “membuat” cinta.

Untuk orang-orang ini, saya hanya menyarankan janganlah berhenti atas sesuatu yang baik, bukan demi orang lain, tetapi demi anda sendiri.  Mungkin anda pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “hidup tanpa cinta bagaikan malam yang tak berbintang”, dan mungkin seringkali anda mengatakan, “hah… itu hanyalah ungkapan gombal atau semacamnya”, dan sering kali demi membela argumen anda, anda mengatakan kepada diri anda, “tidak apa-apa malam anda tidak berbintang seperti halnya orang lain, toh anda-pun tetap baik-baik saja”. 

Tetapi dibalik semua pernyataan/pembelaan yang anda ucapkan, mungkin dalam diri anda menyadari, apabila anda diberi kesempatan untuk mencintai dan atau dicintai, anda-pun menginginkannya.

Jangan terlalu keras pada diri anda…

Apabila anda “berhenti membuat” cinta hanya karena anda putus aja, kecewa, ataupun alasan lainnya yang berasal dari pihak luar yang pernah menyakiti anda sehingga anda mengambil tindakan preventif agar tidak terulang kembali, sebenarnya anda sedang “melukai” diri anda sendiri, karena dengan anda membuat diri anda berhenti “membuat” cinta, itu berarti anda telah membuang salah satu hak anda sebagai salah satu makhluk yang dicintai oleh pencipta-Nya.    


Nobody wants to be lonely…

Friday, October 10, 2014

Why your spouse is more important than your kids!

Saya yakin banyak para ibu yang tidak setuju dengan melihat judul artikel saya ini, tapi mata saya cukup lama terpaku ketiika saya membaca suatu pernyataan yang intinya mengatakan ”God, husband, kids.... – in that order” dan saya lebih kagum lagi pada pemikiran tulisan ini ketika penulisnya mengambil perumpamaan pada saat kita ingin berpergian dengan pesawat terbang, sang pramugari/ pramugara akan memberikan kita informasi tentang instruksi keselamatan, dimana salah satunya tentang bagaimana kita harus memakai terlebih dahulu masker oksigen sebelum kita memakaikannya ke anak kita, mereka tidak mengatakan bahwa nyawa anda lebih berharga daripada anak anda... tentu saja tidak. 

Saya pikir kamu tahu alasan sebenarnya, kamu tidak akan dapat menolong anakmu kalau kamu sendiri tidak tertolong bukan?!   

Sama halnya seperti parenting... kamu tidak akan dapat melakukan parenting secara efektif klo hubunganmu dengan pasanganmu tidak efektif, atau bahkan bercerai. 

Masuk akal bukan? 

Sebelum saya menguraikan lebih jauh, saya ingin menekankan terlebih dahulu, bahwa tulisan saya selanjutnya tidak berlaku untuk pasangan yang abusive, karena tentu saja keadaannya akan jauh berbeda.  Jadi marilah fokus pada pasangan yang sewajarnya. 

Hal lainnya yang cukup menarik perhatian saya adalah ketika sang penulis mengatakan, ”Never talk negatively about him/her”, tidak disarankan untuk menceritakan hal-hal negatif atau permasalahanmu dengan pasanganmu pada teman-teman atau keluargamu, karena mayoritas itu malah akan memperburuk keadaan, mereka akan berpihak denganmu, karena mereka mendengar cerita dari 1 sisi.  Jadi disarankan, mintalah pendapat ke orang-orang yang benar-benar dapat objektif terhadap permasalahanmu, pertimbangkan profesional counselor, itu jauh lebih baik, jangan pernah berpikir klo menggunakan jasa profesional counselor terlalu berlebihan, tidak ada yang berlebihan apabila menyangkut tentang hidupmu, hidup pasanganmu, dan hidup anak-anakmu.  Tapi jika kamu terhalang dengan masalah keuangan atau hal esensial lainnya, komunikasi dengan pasanganmu sepertinya menjadi pilihan terbaik, daripada kamu meluapkannya dengan teman-teman atau keluargamu. Ingatlah... setiap hubungan pantas untuk diperjuangkan.    

Last but not least… yang menurut saya sudah cukup sering kita mendengar tips ini… tapi menurut saya, poin ini merupakan kunci dari segalanya

Respect your spouse…  

Menurut kamu, siapakah yang paling diharapkan oleh pasanganmu untuk memuji dirinya? Atau mungkin akan lebih mudah klo pertanyaannya saya putar balik. 

Dari siapakah kamu ingin mendengar pujian tentang dirimu?  Seperti… 

you looks great, your cooking is wonderful, I’m proud of you, I believe in you, etc.  

Dari orang-tuamu? Atau dari anak-anakmu-kah?  Saya meragukan mereka berada di nomor 1 dalam daftarmu.   

Dan perlu diingat, mungkin tidak semua orang menyadari akan hal ini, suatu hari anakmu akan besar dan memiliki kehidupannya sendiri [kamu pasti tidak ingin bukan klo anakmu tidak punya kehidupan?!!], ketika itu terjadi apabila kamu tidak membangun/ menanam benih hubungan yang everlasting… percayalah... pada akhirnya kamu dan pasanganmu akan berakhir pada sebuah kekosongan.


Inspired by: http://eighthrising.com/2013/10/28/10-marriage-tips-every-wife-needs-to-hear/