Belangkangan ini kita dihentakkan dengan berbagai masalah sosial yang
terjadi di sekitar kita, salah satu isu yang paling hangat dibicarakan
orang-orang adalah masalah Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT). Tiba-tiba saja masalah ini menjadi topik
hangat yang dibicarakan dimana-mana, bahkan sampai ke tingkat pemerintahan,
seakan-akan keberadaan kelompok ini baru terjadi sekarang ini, padahal seperti
kita ketahui bersama, keberadaan kelompok ini sudah ada sejak lama, bahkan mungkin
sejak manusia mulai diciptakan.
Dari begitu banyak artikel atau pemberitaan tentang masalah ini,
mayoritas penduduk negara Indonesia masih menghujat mereka yang tergabung dalam
kelompok ini. Tentunya mereka yang
menghujat selalu mengatasnamakan Tuhan.
Bahkan ada salah satu komentar yang membuat saya tertawa geli, “Tuhan saja tidak menerima kaum LGBT,
mengapa kita sebagai manusia harus menerimanya?!”
Saya jadi berpikir, bagaimana dia
tahu pasti klo Tuhan tidak menerima kaum LGBT? Apakah dari apa yang ditulis dalam kitab
suci?
Saya tidak mengatakan bahwa ajaran kitab suci yang ada adalah salah,
tentunya saya tidak berani berkata demikian, tapi menurut saya, sebagai mahluk
ciptaan Tuhan yang paling berintelektual dan berhati nurani, tentunya kita
perlu menyikapi fenomena tersebut dengan lebih bijaksana. Karena dari apa yang saya lihat dan dengar,
mereka yang kontra terhadap keberadaan kelompok ini, mayoritas berlatarkan
agama.
Kadang-kadang
yang membuat saya tak habis pikir adalah, kenapa sebagai manusia yang tak luput
dari kesalahan, kekurangan, dan dosa, masih menghakimi orang lain dengan alasan
agama. Sucikah mereka? Lebih baik’kah
mereka dari orang-orang yang dihujatnya?
Tetapi dari begitu banyaknya pemberitaan tentang LGBT ada 1 artikel
yang cukup menarik buat saya, artikel tersebut ditulis oleh Franz Magnis
Suseno, beliau merupakan seorang Romo sekaligus Guru Besar Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara.
Dalam salah satu tulisannya, beliau menyadarkan kita semua bahwa
sebaiknya dalam menyikapi masalah ini, kita semua diminta untuk menyikapi fakta.
Apa sebenarnya maksud dari pernyataan beliau?
Menurut saya, perubahan akan selalu terjadi di sekitar kita, apapun
bentuknya, termasuk fenomena kehidupan sosial, kita sebagai makhluk yang berintelektual,
tentunya dapat melihat apabila terjadi perubahan di sekitar kita. Tetapi mungkin masalahnya terletak pada ada
orang yang mau mempelajari perubahan
tersebut, tapi ada juga yang bersikap skeptis,
langsung menilai bahwa perubahan tersebut tidaklah baik.
Perlu diingat, kadang kita tak harus menerima atau bahkan
mendukung dengan kita mempelajarinya.
Saya menilai pada umumnya masyarakat jauh lebih dapat menerima apabila perubahan tersebut
dalam hal telekomunikasi dan teknologi, seperti halnya mobile phone, alat elektronik, ataupun perkembangan dalam peralatan
rumah tangga, tetapi begitu masalah kehidupan sosial, jauh lebih sulit.
Mengapa demikian? Mengapa begitu
menyangkut fenomena LGBT ini, publik tiba-tiba menjadi skeptis?
Apa yang sebenarnya mengganggu publik terhadap kaum LGBT, padahal begitu banyak ilmu pengetahuan yang sudah berkembang tentang kelompok
ini?
Mengapa masih banyak orang yang tetap keukeh pada ajaran yang ditulis berabad-abad lalu tanpa
mempertimbangkan perkembangan yang ada?
Untuk menjawabnya, tentulah tidak mudah, setiap orang memiliki pendapat
dan pemikirannya sendiri-sendiri.
Saya sangat salut dengan perusahaan-perusahaan besar, yang secara
terang-terangan mendukung kelompok LGBT, seperti misalnya Starbucks. Mereka dengan berani mengeluarkan pendapat
dan sikapnya ke publik tanpa memikirkan resiko keuangan yang mungkin
dideritanya. Disaat semua perusahaan
menjaga sikap demi meraup keuntungan, perusahaan-perusahaan ini sudah lebih
maju jauh dengan memperhatikan masalah kemanusiaan.
Sudah sejak lama, badan WHO sudah mencoret homoseksual dari daftar penyakit mental. Homoseksual diartikan sebagai ketertarikan
seksual kepada orang lain yang sesama jenis, jadi laki-laki lebih tertarik
dengan laki-laki dan perempuan lebih tertarik ke perempuan. Sehingga kata “menyembuhkan” atau “membina”
yang ditujukan ke kelompok ini sangatlah tidaklah tepat.
If being gay is a choice, then when did you decide to become straight?
Orientasi seksual seseorang
tentunya tidak relevan dalam kebanyakan transaksi kehidupan. Untuk
menjelaskan lebih detail poin ini, belum lama ini, melalui film Imitation Game, kita diperlihatkan betapa
tragisnya nasib seorang homoseksual yang berjasa bagi dunia, karena hanya dia
seorang homoseksual. Hampir semua orang
yang menyaksikan film tersebut setuju bahwa nasib Alan Turing yang menjadi
tokoh sentral film yang diangkat dari kisah nyata ini, sangatlah tragis (hanya
karena dia seorang homoseksual!).
Yang paling terpenting, negara kita, Indonesia sejak lama memilih
sebagai negara hukum, bukan negara agama ataupun negara adat-istiadat, berarti
negara harus menjamin bahwa otonomi seseorang harus dihormati dan diakui selama
dia tidak merugikan orang lain. Termasuk
didalamnya, menghormati orang-orang dalam kelompok ini untuk berkumpul dan
membicarakan keprihatinan antar mereka.
Bagi kaum LGBT, pengakuan sosial merupakan jalan yang panjang bagi
kalian, tapi itu bukanlah sesuatu yang mustahil, dimana didalamnya terkandung
tekad yang kuat, itikad yang baik, dan sikap yang positif. Mayoritas orang beranggapan negatif karena
mereka tidak kenal, maka dari itu muncul pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, sudah saatnya
perkenalkan diri kalian secara positif kepada mereka, tunjukkan prestasi yang membanggakan.
“Because we
all share this Planet Earth, we have to learn to live in Harmony & Peace
with each other and with nature. This is not just a dream but a necessity”
-LGBT; Life
Gets Better Together-