Monday, July 6, 2015

Friend Becomes Boss


Rasanya sudah sering bukan kejadian seperti ini kita dengar dari teman-teman kita atau bahkan terjadi pada diri kita sendiri, dan tidak sedikit orang yang menganggap hal ini bagaikan malapetaka. 


Benarkah teman yang menjadi bos, lebih parah dari bos yang awalnya sudah bos?


Klo memang benar adanya, mengapa begitu?  Bukankah seharusnya sebaliknya, teman yang menjadi bos bukankah harusnya lebih enak, karena dia sudah tahu tentang kita dengan baik, kita juga bisa lebih santai berbicara dengannya, dan masih banyak alasan lainnya. 

Lalu kenapa masih banyak orang yang menganggap hal tersebut bagaikan malapetaka? 

Tapi tidak salah juga banyak orang menganggap seperti itu, karena dari beberapa sumber yang saya peroleh, memang tidak sedikit hubungan Friend Becomes Boss tsb yang berakhir tragis atau mengenaskan.

Mengapa demikian…?
 
Berdasarkan pengamatan saya, karena masih banyak yang lupa… iya LUPA, setidaknya itu menurut pendapat saya.

Banyak yang lupa, klo bagaimanapun (suka atau tidak) kita dengan diri-nya tidak akan mungkin bisa sama lagi, bagaimana mungkin kita mengharapkan hal yang sama klo keadaan/ kondisinya pun telah berubah.

Pertanyaan selanjutnya, haruskan kita khawatir akan perubahan tsb? 

Aneh rasanya klo kita tidak merasa khawatir sama sekali, bahkan dari beberapa masukan yang saya terima dapat disimpulkan mayoritas kekhawatiran kita adalah mungkin karena kita merasa teman kita tsb sudah tahu banyak tentang kekurangan kita, karena klo kelebihan kita, saya rasa kita malah tidak terlalu khawatir bukan?!

Atau bisa juga kekhawatiran kita karena kita merasa dia kurang pantas menjadi pemimpin kita, dalam arti kita meragukan kemampuannya.    

Tapi pernahkah terlintas dipikiran kita bahwa mungkin saja diri-nya pun khawatir… khawatir bahwa dirinya tidak akan mendapat dukungan atau respect dari kita. 

Bagi saya, tidak ada gunanya terus memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut, ada kalanya slogan jalani saja tepat untuk kita terapkan dalam kasus seperti ini.  

Don’t think and worry too much!

Ada beberapa tips yang dapat dijadikan panduan dalam menghadapi perubahan 
tsb…  
 
Pertama, sadari bahwa hubungan kita dengan dirinya takkan pernah sama lagi, sebenarnya ini bukan sesuatu hal yang buruk juga, hanya saja sekarang ini dia memang bukan sekedar teman kerja lagi, melainkan bos kita. Jadi tidak ada salahnya juga untuk kita menjaga jarak dengan dirinya secara pantas.


Kedua, hindari minta tolong dengan dia.  Ingat selalu dia kini bos kita, selayaknya-lah dia yang minta tolong dengan kita, bukan sebaliknya, adapun klo kita membutuhkan pertolongan dia, nyatakan dalam bentuk minta nasehatnya, jangan minta dia untuk yang melakukannya.


Ketiga, ingat selalu… Just because you are friends, doesn’t mean they think you do a great job!
Saya pikir sudah cukup jelas pernyataan kalimat ini, janganlah kita berasumsi bahwa dia akan berpikir klo kita sudah melakukan kerja yang hebat atau luar biasa, berusahalah semaksimal mungkin tapi janganlah terlalu berharap (don’t expect too much!).


Keempat, jalin komunikasi yang baik dan terbuka, bahkan jalin lebih baik dan terbuka dari sebelumnya, kebanyakan orang banyak menggunakan asumsi, hindari hal ini. 


Kelima, don’t take things personally.  Jangan terlalu menggunakan perasaan dalam menilai tindakan atau omongannya, berusahalah se-objektif mungkin, hindari sikap terlalu sensitif dalam menilainya.  Apabila dia mengkritik pekerjaanmu, cobalah bersikap dewasa, dengarkan dan diskusikan dengan dia, apa yang dia inginkan atau harapkan dari dirimu.


Poin terakhir merupakan yang paling terpenting dan pada saat yang bersamaan menjadi poin yang paling sulit dilakukan, Still Act Professionally, pastikan kita bisa bedakan antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi.  Hindari pembicaraan-pembicaraan pribadi dengan dia, walaupun dulunya dia adalah salah satu teman curhat kita.  Seringkali kita sulit membedakan hal ini, mana yang patut atau tidak untuk dibicarakan lagi dengan dia, buang sebentar pemikiran kita tentang dia sebagai teman kita, kita sudah seharusnya berpikir sekarang dia adalah bos kita (suka atau tidak).  Bayangkan pada hari pertama kita masuk kerja dan bertemu dengan bos baru kita, bayangkan seperti itu, apakah mungkin kita membahas hal-hal kecil atau pribadi dengan dirinya?!


Banyak orang yang masih salah dengan ini, mereka menganggap bahwa temannya telah berubah atau menjadi aneh, bagi saya, orang-orang ini-lah yang aneh, secara emang keadaannya sudah berubah bukan?!


Klo-pun dia tidak berubah, dia tetap bisa menjadi teman sekaligus pemimpin yang baik, anggap saja itu sebagai bonus buat kamu, enak kan?!!!



Tidak ada salahnya selalu bersikap profesional di tempat kerja, aneh rasanya klo kita bertindak tidak profesional di lingkungan yang diciptakan secara profesional!


Inspired by: http://careerrocketeer.com/2012/06/what-to-do-when-your-best-friend-becomes-your-boss.html